Rabu, 17 September 2025
[Gambar]
Acara Kabupaten Pekalongan Bersholawat yang diselenggarakan di Desa Coprayan Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, pada Selasa (06/05/2025) berlangsung khidmat. Acara ini merupakan bagian dari tradisi yang selalu dilakukan setiap malam Rabu Wage di seluruh kecamatan di Kabupaten Pekalongan. Bersholawat ini merupakan momentum yang paling tepat dalam meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa dimana dalam merebut kemerdekaan peran para alim dan ulama sangat berperan dan kemerdekaan Indonesia juga tidak terlepas dari Rahmat Allah SWT. Acara keagamaan seperti ini diharapkan menjadi salah satu kegiatan peningkatan nilai-nilai keimanan umat sekaligus peningkatan kualitas hidup dalam bermasyarakat.
Kamis, 15 Mei 2025
[Gambar]
Pada hari Senin 21 April 2025, dengan mengenakan kebaya, para karyawan Kecamatan Buaran melaksanakan apel. Dalam apel tersebut, pak camat menyampaikan amanat dari menteri PPPA. Peringatan Hari Kelahiran RA Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, kelahiran pahlawan perempuan Raden Ajeng Kartini, yang mencetuskan “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. RA Kartini dikenal sebagai pahlawan yang memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya, banyak hal yang dapat dikutip dari perjalanan hidup pahlawan Nasional ini seperti jadilah wanita Indonesia yang berilmu pengetahuan, jadi pendidik dalam rumah tangga dan mengisi pembangunan dalam segala bidang.
[Gambar]
Berkat perjuangan Ibu Kartini kini terbukti banyak perempuan yang berkarir di bidang politik dan ekonomi, jadi marilah kita bersama mengenang jasa Pahlawan perempuan nasional RA Kartini, Dirgahayu Hari Kartini.
[Gambar]
BUARAN - Tradisi Gunungan Megono Syawalan di Pekalongan merupakan perayaan yang diadakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada hari ke-7 bulan Syawal. Acara ini berlangsung di objek wisata Linggoasri, Kecamatan Kajen, dan melibatkan arak-arakan gunungan megono serta hasil bumi dari 19 kecamatan di Kabupaten Pekalongan.
Tradisi ini berasal dari kebiasaan masyarakat Muslim setempat sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan berkah selama setahun. Gunungan megono sendiri terbuat dari olahan nangka muda yang dicampur dengan kelapa parut dan bumbu, menjadikannya makanan khas Pekalongan. Selain sebagai simbol kesuburan, gunungan ini juga melambangkan kebersamaan dan gotong royong masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, acara ini dimulai dengan kirab gunungan yang diarak menuju lokasi acara. Masyarakat berpartisipasi aktif dengan mengambil bagian dari gunungan megono, yang dipercaya dapat membawa keberkahan dan kesehatan. Selain itu, terdapat lomba gunungan terbaik yang menambah kemeriahan acara.
Tradisi Gunungan Megono tidak hanya memiliki nilai budaya tetapi juga berdampak positif pada perekonomian lokal. Acara ini menarik banyak pengunjung, meningkatkan penjualan bagi pedagang setempat, serta mempererat hubungan antarwarga. Pemerintah setempat juga mendukung pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dijaga.
Rabu, 5 Maret 2025
Kamis, 2 Januari 2025
Kamis, 21 November 2024
Senin, 4 Agustus 2025
Selasa, 22 April 2025
Kamis, 10 April 2025
Jumat, 14 Februari 2025